Risk Characterization

Bagian dari risk assessment adalah risk characterization. Oke, kenapa bisa risk characterization? Risk characterization adalah hal paling penting di audit resiko (risk assessment) karena disinilah kita bisa menilai apakah sebuah bahan kimia, atau kontaminan atau polutan akan menimbulkan resiko terhadap manusia.

Bagaimana cara mendapatkan risk characterization?

Kita harus tahu dulu, skema secara jelasnya. Klik Risk quotient supaya anda bisa melihat skemanya. Saya akan langsung ke contoh. Sebagai contoh adalah carbamazepine. Bahan kimia ini sering digunakan sebagai obat antiepilepsi. Sekarang kita akan mengukur risk quotientnya. Ingat, kita hanya butuh dua parameter, Exposure assessment (PEC) dan effects assessment (PNEC).

Cara penghitungan PEC ada berbagai macam, yang saya cantumkan disini adalah PEC based on effluent. Yup, artinya perhitungan PEC berdasarkan persen removal carbamazepine dari wastewater treatment plant (pengolahan air limbah). Formula PEC dapat anda lihat di dokumen PNEC. Kita akan belajar menghitungan PEC:

A: jumlah carbamazepine (kg/tahun) adalah 39.940 kg/tahun (contoh di Perancis)
R: persen removal carbamazepin di pengolahan air limbah, kita asumsikan 30% (carbamazepine lumayan tahan terhadap pengolahan air limbah)
P: populasi daerah tertentu, misal daerah A, ada 20.000.000 orang
V: volume pemakaian carbamazepine (100 mL/org.hari)

Kita masukkan, maka kita dapatkan PEC = 3,4 mg/L

PNEC, kita harus mendapatkan PNEC dari uji akut dan kronis. Otomatis tesnya adalah bioassay, bisa menggunakan bakteri, crustaceans, atau alga. Uji ini bertujuan untuk mengambilkan dosis konsentrasi (mg/L) yang mana 50% nya populasi uji menunjukkan kematian, atau perubahan struktur sel secara signifikan. Saya ambil contoh data, carbamazepine terhadap c. dubia uji kronis selama 7 hari, konsentrasi 0,025 mg/L menunjukkan adanya perubahan jaringan sel. Kita ambil nilai 0,025 mg/L ini.

Oke, skr kita bagi, PEC/PNEC adalah 136 >1 sangat jauh diatas 1. Artinya apa, carbamazepine memberikan resiko terhadap lingkugan, dan terhadap biota, dan keberadaannya sekarang pada kondisi yang unaceptable. Sehingga, produksi maupun penggunaan carbamazepine harus dikurangi. Namun demikian, perlu uji lebih lanjut pengaruhnya terhadap manusia.

Data diatas sebagian adalah berdasarkan asumsi, yang penting point untuk mendapatkan risk characterizationnya tercapai. Data2 tersebut harus dicari melalui penelitian. Saya rasa Indonesia belum sampai ke arah sana :)

 Referensi:
http://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/msg03967.html (google, keyword: kegunaan carbamazepine)

Belum ada komentar

Leave a reply