Bunuh diri dan rasa cinta

Beberapa waktu yang lalu saya mendapati berita ada beberapa orang yang melakukan bunuh diri karena cinta. Hari ini lagi-lagi saya mendapati berita serupa, tidak ingin kehilangan kekasih, pacar selingkuh hingga istri affair selalu jadi alasan utama. Di sebuah forum saya juga sering mendapati beberapa orang yang curhat betapa sakitnya diselingkuhi dan meminta saran apa yang harus dilakukan selanjutnya..

Saya terus bertanya pada diri sendiri “kenapa sih mereka bunuh diri?”. Selingkuh ya selingkuh, sakit hati ya sakit hati, tp kenapa sampe gelap mata, gelap hati macam begitu sampai memutuskan bunuh diri.

Namanya juga “gelap”, yang namanya gelap adalah ketiadaan cahaya, bukan karena gelap itu adalah “sesuatu”. Jadi apa maksudnya… Ini menurut saya..

Ketika orang merasakan sakit karena cinta, entah itu karena selingkuh, atau karena pacarnya beda prinsip, atau karena pacarnya menganggap kita miskin atau sebab2 yang lain, sebenarnya kita sudah tidak melihat apa2 lagi di luaran… Maksudnya adalah, jika kita sudah mencintai seseorang, yang mampu kita lihat adalah semua persoalan melingkupi kita dan pacar. Sudah itu saja.. Buktinya apa?

Kalau pacar kita sms minta jemput, gmana perasaan kita? kan ya biasanya kita jemput lah ya, walaupun misal kita masih ada urusan di tempat laen, atau tiba2 teman minta bantuan, atau kita aslinya masih harus asistensi ama dosen.. tentu biasanya pacar yang kita prioritaskan.. ada perasaan senang begitu kan.. Itulah namanya cinta. Cinta dalam arti kata emosi. Kalau sudah begitu, dunia menjadi serasa milik berdua saja.. Bener enggak?

Ok lanjut, apa tahapan selanjutnya dari cinta? itu adalah perasaan BUTUH. Butuh pacar untuk nemenin lah, butuh untuk diajak ngobrol lah, butuh untuk membuat diri kita merasa dihargai dan disayangi lah.. macem2 alasannya. Tp ya tetep, perasaan cinta akan memberikan rasa butuh ke si dia. Hasilnya, begitu apa yang kita butuhkan lepas dari kita? ya apa yang terjadi, uring2an lah, es mo si lah, stresslah.. kan begitu.. Karena apa? karena pada hakekatnya kita sudah “terikat” pada si dia..

Banyak sudah orang2 yang berpengalaman memberi jawaban, kalau kita mengalami hal semacam itu ya “move on” lah, begitu istilah kerennya, “harus tegarlah” dll dan dengan segala bentuk solusi yang laen, walaupun pada intinya sama. Tp hakekatnya mereka tidak memberikan solusi “inti” dari segala “inti” permasalahan itu.

Pertama, ini adalah jelas yang terbaik dan merupakan langkah preventif. Anda punya feeling, anda punya aturan norma, anda punya aturan agama. Ya itu dipeganglah.. kalo agama menyuruh kita pilih orang karena agamanya, bukan karena kecantikan atau hartanya atau keturunannya, ya cari dan pilihlah orang karena agamanya, bukan karena “ah kurasa dia bisa nuntun gw”, “ah gw merasa dihargai bareng ama dia”. Lha lho.. memang bisa perasaan seperti itu, tp lihatlah awal2nya mugnkin akan bahagia, tp lama-kelamaan, kalo tidak ada dasar agama yang digunakan, begitu anda lihat kelemahan pasangan anda, ya bisa-bisa ilfillah, atau perasaan bosanlah, dan kalo begitu selingkuh deh..

Sudah sifat alamiah manusia kalau selalu ingin mencari suatu yang “menarik”, “tantangan” baru, ingin merasa dihargai, ingin selalu diikuti.. Tp kalo landasannya bukan agama yang kacau, larinya ya “move on” tp ntar ketemu dengan pasangan laen ya bgitu lagi… Iya kalau dapet pengganti yang lebih baik, dalam arti sifatnya ngeklop dengan diri kita, tp kalo gak, ya ujung2nya jg berantakan.

Kedua, yang namanya landasan agama disini adalah, kalo pilih calon ya pilihlah berdasarkan agamanya, bukan yang lain, karena itu membawa kita ke kebahagiaan sebenarnya, bukan kebahagiaan di dunia saja. Pada intinya itu. Berikut, agama juga sudah jelas, yang namanya mau nikah itu ya ta’aruf saja, bukan pacaran yang aneh2 gitu. Memang orang alasannya banyak.. ya kalo ta’aruf gak bisa mendalami pasanganlah, ya ga enak dalam hubunganlah.. la wong sudah banyak gt loh contohnya orang pacaran lama2 justru malah akhirnya kandas. Eh, akhirnya menikah dengan orang lain yang justru hubungannya dalam hitungan bulan. Artinya apa, sebenarnya kalo ingin menikah itu ya gak perlu pacaran segala, sampe pegang2 dll begituan.. Kalo sudah siap ya langsung menikah..

Ketiga, buanyak sekali dah yang namanya orang sakit hati karena selingkuh, karena berpaling ke satunya dll.. pada akhirnya curhat apa yang harus dilakukan next? Sebetulnya kalo mau direnungkan secara matang2, ya sebetulnya sudah jelas kok. Kalo misal pada masa pacaran kemudian putus karena selingkuh, ya sudah gak dilanjutin lagi… masalahnya perasaan cinta kita kadang masih terikat dengan si dia.. Nah itu dia.. Perasaan itulah yang harus dilepaskan. Gimana melepaskannya? Ya tentu dengan memperbanyak kegiatan, melupakan si dia memang tidak gampang, susah.. Nasihat sebagus apapun tidak akan banyak membantu melupakan si dia, tp membuat hati anda senang iya. Yang bisa menjawab sakit anda itu hanyalah WAKTU. Yang penting adalah bagaimana selanjutnya anda menggunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Bukannya malah mabuk2an, atau melakukan hal terlarang lainnya. Karena sesungguhnya disitu letak ujian kita. Mau lulus naek tingkat apa justru malah semakin melorot mejauhi Tuhan.

Intinya sederhana, kalo mampu, pacaran gak usah lama2, istikhoroh, pasangan anda kira2 cocok gak untuk membawa anda menuju ke ridho Allah. Disitu anda akan mendapatkan jawaban kok, jangan pesimistis kalo belum dilakukan. Oke?

2 comments so far

  1. Eko SW on

    Bunuh diri karena cinta?

    …. kesakitan hatinya terlalu dahsyat kali ya ^_^

    Makasih,
    lg cari2 info ttg ini emang.

    Eko SW

  2. Dede Rahman on

    Gue juga sekarang kalo ingat dia yang selalu menolak cinta ini. prngrn nya bunuh diri mulu….

    kok tuhan ngga ngasih jodoh yang pas sih buat kita..
    setiap waktu yang terbayang wajah nya si X, tapi mengapa Alloh memilih si Y yang suka pada kita.

    Pusiiiiiing banget….

    oh tuhan andai saja aku ganteng, mungkin ga separah ini penderitaan cintaku…


Leave a reply